PT Mayawana Persada Perkuat Penanganan Karhutla, 170 Personel Dikerahkan di Ketapang dan Kayong Utara

Editor: Admin author photo

Karhutla Mengancam, PT Mayawana Persada Perkuat Pemadaman dan Pengelolaan Gambut. SUARAPONTIANAK/SK
Pontianak (Suara Pontianak) – Upaya penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus diperkuat PT Mayawana Persada di wilayah kerja yang mencakup Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Menghadapi ancaman karhutla di tengah musim kemarau dan kondisi iklim yang meningkatkan risiko kebakaran, perusahaan mengintensifkan pemantauan, patroli, hingga pemadaman di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Tim gabungan bergerak langsung ke lapangan untuk memadamkan titik api, mengendalikan penyebaran, serta mencegah api meluas ke kawasan lainnya.

Direktur PT Mayawana Persada, Iwan Budiman S.Hut, mengatakan penanganan karhutla menjadi prioritas perusahaan. Menurutnya, upaya yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga mencegah dampak kebakaran meluas terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Prioritas kami saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran dilakukan secepat dan seefektif mungkin, sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan masyarakat. Kami menyadari bahwa kejadian ini juga menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu, selain mengerahkan sumber daya untuk penanganan di lapangan, kami melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi kawasan dan langkah-langkah pengelolaan yang perlu diperkuat ke depan,” ujar Iwan, Rabu (26/8/2026).

Untuk memperkuat respons di lapangan, PT Mayawana Persada mengerahkan tujuh regu inti bersama regu pendukung dengan total 170 personel yang ditempatkan di delapan posko pemadam.

Kesiapan tersebut didukung sarana dan prasarana pemadaman sesuai standar P32, menara pantau, drone, pesawat nirawak VTOL, CCTV, serta 74 titik sumber air atau water point yang tersebar di empat sektor operasional.

Seluruh sumber air tersebut dipelihara secara rutin untuk memastikan ketersediaannya ketika dibutuhkan dalam proses pemadaman.

Patroli dilakukan secara intensif selama 24 jam setiap hari, baik siang maupun malam. Tim juga melakukan pemadaman langsung serta pembuatan sekat bakar sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Setelah api berhasil dikendalikan, penanganan dilanjutkan dengan proses pendinginan dan pemantauan secara berkala untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Selain pemadaman, perusahaan juga menempatkan tata kelola hidrologi sebagai bagian penting dalam upaya menekan risiko kebakaran, khususnya di kawasan gambut.

Asisten Kepala Environment PT Mayawana Persada, Agus Trijoko, menjelaskan bahwa infrastruktur kanal di dalam konsesi difungsikan untuk menahan dan mengatur distribusi air atau rewetting, bukan untuk mengeringkan lahan.

“Menghadapi musim kemarau dan El Niño, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan. Secara teknis, perusahaan menjaga Tinggi Muka Air (TMA) rata-rata pada kisaran 40 sentimeter untuk memastikan lahan tetap lembap tanpa menggenangi perakaran tanaman,” jelas Agus.

Pemantauan tinggi muka air dilakukan secara real-time selama 24 jam melalui stasiun sensor telemetri otomatis atau level logger.

Menurut perusahaan, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kelembapan gambut sekaligus mengurangi risiko terjadinya kebakaran bawah permukaan atau smoldering combustion yang sulit dideteksi dan dipadamkan apabila gambut sudah terlanjur kering.

Upaya pencegahan juga diperkuat melalui pelibatan masyarakat sekitar kawasan. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR), PT Mayawana Persada menyalurkan bantuan sarana dan prasarana pemadam kebakaran kepada Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh Kepala Desa Padu Banjar, Kasdy, S.E., didampingi Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Banjar Lestari, Samsidar, serta perwakilan Yayasan Palung, Hendri Gunawan.

Desa Padu Banjar secara geografis berada di bentang alam Hutan Lindung Sungai Paduan. Bantuan peralatan pemadam diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan warga sekaligus mempercepat penanganan apabila ditemukan potensi kebakaran di tingkat tapak.

Pemberian bantuan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam program kerja kolaboratif Working Group Landscape MATA PANDAWA. Peralatan yang diberikan diharapkan dapat dirawat dan dimanfaatkan bersama masyarakat untuk mendeteksi serta menanggulangi potensi karhutla secara mandiri dan berkelanjutan.

Di sisi lain, perusahaan juga menjalankan program pemulihan ekosistem melalui rehabilitasi kawasan gambut. Asisten Sustainability PT Mayawana Persada, Charia Salasari, mengatakan kegiatan revegetasi difokuskan pada spesies pohon yang sesuai dengan karakteristik rawa gambut.

“Bibit dibudidayakan langsung di Revegetation Nursery internal di dalam kawasan hutan agar terbiasa dengan iklim setempat. Melalui pola tanam berjarak 5 x 5 meter dan evaluasi silvikultur berkala setiap enam bulan, tingkat keberhasilan tumbuh atau survival rate bibit revegetasi kami saat ini telah mencapai sekitar 80 persen,” terang Charia.

Komitmen perlindungan bentang alam jangka panjang juga diwujudkan melalui pengusulan peningkatan alokasi kawasan konservasi dari 37.000 hektare menjadi 71.000 hektare dalam revisi Rencana Kerja Usaha (RKU), termasuk penguatan perlindungan bentang alam di wilayah selatan konsesi.

Asisten Kepala Sustainability PT Mayawana Persada, Muharjan, mengatakan perluasan kawasan konservasi tersebut diselaraskan dengan kebijakan Cagar Biosfer dan kemitraan multipihak.

“Kawasan konservasi berkanopi rapat ini menjadi koridor jelajah yang aman bagi populasi orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan lainnya sekaligus memberi jaminan kelestarian ekologis bagi masyarakat sekitar,” pungkas Muharjan.

Melalui penguatan respons cepat di lapangan, pemantauan berbasis teknologi, pengelolaan tata air, pemberdayaan masyarakat, serta pemulihan ekosistem, PT Mayawana Persada menyatakan terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah, aparat, mitra konservasi, dan masyarakat desa untuk menekan risiko karhutla dan mencegah penyebaran api.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya mampu mengendalikan kebakaran ketika terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan dan menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayah Ketapang dan Kayong Utara. [SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play