Pontianak (Suara Pontianak) – Pemain bulu tangkis asal Jepang, Maya Taguchi, menjadikan POLYTRON Pontianak International Challenge 2026 sebagai momentum untuk mencoba tantangan baru di sektor ganda putri.Maya Taguchi Nikmati Tantangan Baru di Ganda Putri POLYTRON Pontianak International Challenge 2026. SUARAPONTIANAK/SK
Selama ini lebih dikenal sebagai pemain ganda campuran, Taguchi mengaku sudah lama memiliki keinginan untuk merasakan atmosfer persaingan di nomor ganda putri. Keinginan itu akhirnya diwujudkannya di Pontianak dengan berpasangan bersama juniornya, Nijika Kamata.
Debut tersebut langsung berbuah manis. Kamata/Taguchi berhasil menyingkirkan pasangan Indonesia, Jane Maira Faiza/Hani Miftasari, pada babak 32 besar, Rabu (26/8/2026).
Pasangan Jepang itu menang dua gim langsung dengan skor 21-17, 21-11 untuk memastikan tiket ke babak berikutnya.
“Di dalam diri saya sebenarnya saya ingin sekali main di ganda putri juga, tidak cuma di ganda campuran. Jadi untuk International Challenge kali ini, saya ingin enjoy saja sebisa mungkin untuk bermain di ganda putri. Tidak masalah harus bermain di level bawah, saya akan menikmatinya,” ujar Maya.
Menurutnya, perpindahan dari ganda campuran ke ganda putri bukan sekadar mengganti pasangan. Pola permainan dan cara berpikir di lapangan juga harus disesuaikan.
“Pastinya dari segi permainan, ganda campuran dan ganda putri berbeda jadi pikiran, pola permainan semua di-reset ke ganda putri,” katanya.
Meski harus melakukan penyesuaian, Maya tidak ingin menjadikan tantangan tersebut sebagai beban. Bermain bersama Nijika Kamata yang merupakan juniornya justru membuat pertandingan terasa lebih rileks.
“Di sini saya main dengan junior saya jadi saya merasa lebih relax dan lebih banyak enjoy-nya dibanding kesulitannya,” tuturnya.
Sikap santai tersebut turut terlihat dalam permainan Kamata/Taguchi. Mereka mampu menjaga konsistensi sejak awal pertandingan dan tidak memberikan banyak kesempatan kepada pasangan Indonesia untuk mengembangkan permainan.
Setelah mengamankan gim pertama dengan skor 21-17, pasangan Jepang tampil semakin percaya diri pada gim kedua. Kamata/Taguchi akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 21-11.
Bagi Maya, pengalaman di Pontianak bukan sekadar mengejar kemenangan. Turnamen ini menjadi ruang baginya untuk menikmati tantangan baru, mempelajari karakter permainan ganda putri, sekaligus memperkaya pengalaman sebagai pemain ganda.
Di balik perjalanan kariernya, Maya juga menyebut sosok yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan dirinya sebagai atlet. Ia menilai pemain Jepang Yuta Watanabe sebagai salah satu sosok yang selalu memberikan perhatian terhadap perjalanan kariernya.
“Yuta Watanabe menurut saya adalah sosok yang paling hebat. Dia selalu memikirkan bagaimana saya bisa menjadi pemain hebat,” ungkap Maya.
Kini, Maya ingin memanfaatkan setiap pertandingan di Pontianak untuk terus belajar. Baginya, hasil akhir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam eksperimen bermain di sektor ganda putri.
Dengan bermain lebih lepas, menikmati pertandingan, dan terus beradaptasi, Maya berharap pengalaman di POLYTRON Pontianak International Challenge 2026 dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan kariernya sebagai pemain ganda. [SK]