Kegiatan yang mengusung tema “Bangkit Merajut Kemandirian Menuju Kesejahteraan Berkelanjutan” tersebut diikuti 30 ibu ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Krisantus mengapresiasi Program PEKA yang dinilainya menjadi bentuk inovasi BPJS Ketenagakerjaan dalam memperluas manfaat perlindungan sosial. Menurutnya, kehadiran BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya memberikan perlindungan ketika peserta menghadapi risiko sosial ekonomi, tetapi juga mendorong keluarga penerima manfaat agar mampu bangkit dan membangun kemandirian.
“Selama ini kita mengenal BPJS Ketenagakerjaan sebagai lembaga penyelenggara jaminan sosial yang memberikan perlindungan atas risiko sosial ekonomi, seperti kecelakaan kerja dan kematian. Namun hari ini, BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan inovasi layanan yang sangat transformatif,” ujar Krisantus.
Ia menilai, pendampingan melalui Program PEKA menjadi langkah penting karena manfaat yang diberikan tidak berhenti pada santunan atau jaminan tunai. Program tersebut diarahkan untuk membantu penerima manfaat membangun sumber penghasilan baru yang produktif dan berkelanjutan.
“Pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada penyerahan santunan atau jaminan tunai, tetapi melangkah lebih jauh melalui program pendampingan berbasis keberlanjutan. Ini menjadi bukti bahwa BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya hadir di saat sulit, tetapi juga peduli terhadap keberlanjutan hidup dan masa depan keluarga peserta,” tegasnya.
Krisantus juga menyampaikan empati kepada para ahli waris yang harus melanjutkan kehidupan sekaligus menjadi tulang punggung keluarga setelah kehilangan anggota keluarga tercinta.
“Saya memahami betul bahwa kehilangan anggota keluarga tercinta, terutama mereka yang menjadi tulang punggung keluarga, adalah duka dan ujian yang tidak mudah. Namun, kehadiran Ibu-Ibu di ruangan ini adalah bukti ketangguhan dan kekuatan untuk terus melangkah,” tuturnya.
Ia mendorong para penerima manfaat agar memanfaatkan santunan secara bijak dan, bila memungkinkan, mengalokasikannya sebagai modal produktif untuk merintis usaha.
Menurut Krisantus, peserta tidak harus menunggu memiliki usaha dalam skala besar. Potensi lokal di sekitar tempat tinggal dapat menjadi modal awal, termasuk usaha kuliner yang dikembangkan menjadi produk siap jual maupun makanan beku atau frozen food.
“Ujian hidup boleh mematahkan satu dahan, tetapi Anda adalah pohon yang harus terus tumbuh dan berbuah bagi anak-anak dan keluarga. Jadikan pelatihan ini sebagai momentum untuk bangkit menjadi pengusaha pemula. Mulailah dari rumah, dari skala sederhana, kemudian kembangkan secara konsisten,” pesannya.
Selain keterampilan produksi, Krisantus menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan media sosial sebagai sarana pemasaran. Menurutnya, perkembangan digital membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa terbatas wilayah.
“Peluang usaha kuliner di Kalimantan Barat sangat terbuka. Manfaatkan teknologi informasi dan media sosial secara bijak dan produktif untuk pemasaran. Dengan media sosial, produk kita tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, bahkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” tambahnya.
Agar Program PEKA tidak berhenti sebatas pelatihan, Krisantus meminta perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, khususnya Dinas Koperasi dan UMKM, memperkuat sinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan.
“Saya meminta perangkat daerah dan instansi terkait untuk menyinergikan Program PEKA BPJS Ketenagakerjaan dengan program pemberdayaan UMKM di Kalimantan Barat. Jangan sampai pelatihan berhenti setelah kegiatan ini selesai, tetapi harus ada pendampingan hingga peserta mampu menjalankan usaha secara mandiri,” instruksinya.
Pendampingan tersebut, lanjut Krisantus, dapat mencakup pengurusan legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal, akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga perluasan pemasaran melalui pameran dan peluang pengadaan konsumsi dalam berbagai kegiatan pemerintahan.
Ia juga meminta peserta benar-benar menyerap ilmu yang diberikan instruktur, mulai dari proses pengolahan produk, menjaga higienitas, pengemasan, menentukan harga jual, hingga strategi pemasaran.
“Serap ilmu dari para instruktur, mulai dari pengolahan, menjaga higienitas, pengemasan, menentukan harga jual, hingga memasarkan produk. Nanti melalui dinas kami, akan kami bantu sinergikan agar usaha yang dirintis dapat terus berkembang,” pungkasnya.
Program PEKA BPJS Ketenagakerjaan diharapkan menjadi titik awal bagi para ahli waris untuk membangun usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus mewujudkan kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mendorong kolaborasi lintas sektor terus diperkuat agar keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai pelatihan, melainkan berkembang menjadi usaha produktif yang mampu menopang kesejahteraan keluarga penerima manfaat. [SK]
.jpeg)