Forum Anak Kalbar Ajak Orang Tua Perkuat Pola Asuh Dan Awasi Penggunaan Gawai

Editor: Admin author photo

Ketua Forum Kalbar Erlina dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 yang digelar di Aula Garuda Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Selasa (11/8/2026). SUARAPONTIANAK/SK
Pontianak (Suara Pontianak) – Ketua Forum Anak Provinsi Kalimantan Barat, Erlina, mengajak para orang tua memperkuat pola asuh sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan gawai oleh anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Pesan tersebut disampaikan Erlina dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 yang digelar di Aula Garuda Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Selasa (11/8/2026).

Menurut Erlina, HAN bukan sekadar momentum untuk merayakan hak-hak anak, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh pihak, khususnya orang tua, agar semakin memperhatikan lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang.

Ia menilai pola asuh yang baik perlu dibangun melalui komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Anak harus diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, didengarkan, serta diajak berdiskusi agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, cerdas, percaya diri, dan memiliki daya kritis.

“Anak-anak perlu kita jadikan teman. Pendekatannya lebih kepada anak, mendengar apa yang mereka sampaikan, berdiskusi dengan baik, serta memperhatikan apa yang mereka mau,” ujar Erlina.

Dalam peringatan HAN ke-42 tersebut, turut diluncurkan program “Berlian” atau Bersama Lindungi Anak sebagai salah satu upaya memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak anak dalam mewujudkan Kalimantan Barat sebagai Provinsi Layak Anak.

Erlina menjelaskan, melalui program tersebut, pendekatan kepada anak diharapkan tidak hanya bersifat instruktif, tetapi juga mengedepankan komunikasi, dialog, dan keterlibatan anak dalam berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan mereka.

Menurutnya, pendekatan yang dekat dan dialogis akan membuat anak merasa lebih diayomi dan dilindungi. Kondisi tersebut juga dapat membuka ruang bagi anak untuk lebih berani menyampaikan persoalan yang mereka hadapi kepada orang tua maupun orang dewasa di sekitarnya.

“Kalau anak merasa didengar dan dilibatkan, mereka akan lebih nyaman untuk bercerita kepada orang tua. Dari situ kita bisa memberikan arahan dan perlindungan yang tepat,” katanya.

Selain pola asuh, Erlina menyoroti perkembangan teknologi digital yang kini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari anak. Menurutnya, penggunaan gawai pada dasarnya memiliki manfaat positif, khususnya untuk mendukung pembelajaran dan membuka akses terhadap informasi.

Namun, penggunaan gawai yang tidak terkontrol berpotensi memberikan dampak kurang baik terhadap tumbuh kembang anak.

Ia menyebut penggunaan gawai kini telah menjadi bagian dari keseharian anak, mulai dari usia balita hingga usia sekolah. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena tidak sedikit anak yang kemudian menunjukkan ketergantungan terhadap gawai dan mengalami kesulitan ketika harus mengurangi penggunaannya.

Karena itu, Erlina meminta orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya penggunaan gawai kepada anak tanpa pendampingan. Orang tua perlu mengetahui konten yang dikonsumsi anak, menetapkan batas waktu penggunaan, serta memastikan pemanfaatan gawai sesuai kebutuhan dan usia anak.

“Orang tua harus lebih waspada dan selektif dalam mengawasi apa yang dilihat anak. Waktu penggunaan gawai juga perlu dibatasi, terutama ketika tidak berkaitan dengan kebutuhan sekolah. Jangan sampai anak terbiasa bergantung pada HP. Berikan batasan waktu agar anak tidak kecanduan,” tegasnya.

Menurut Erlina, pengawasan tersebut bukan berarti melarang anak menggunakan teknologi, melainkan memastikan teknologi digunakan secara sehat, aman, dan memberikan manfaat bagi perkembangan anak.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dengan kegiatan lain, seperti bermain, belajar, berinteraksi bersama keluarga, serta bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Erlina berharap penguatan pola asuh, perlindungan anak, dan pendampingan di era digital dapat dilakukan secara bersama-sama oleh keluarga, sekolah, pemerintah, serta seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, perlindungan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. Lingkungan yang aman, sehat, ramah anak, dan mendukung tumbuh kembang harus dibangun secara kolektif.

Ia menegaskan, anak-anak hari ini merupakan generasi yang akan menentukan wajah Kalimantan Barat dan Indonesia di masa mendatang. Karena itu, perhatian terhadap tumbuh kembang anak harus menjadi investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

“Anak-anak adalah masa depan kita. Kalau sejak sekarang mereka kita lindungi, kita dengarkan, dan kita arahkan dengan baik, maka kita sedang mempersiapkan generasi yang berkualitas untuk Kalimantan Barat dan Indonesia di masa depan,” pungkasnya. [SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play