Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan ibadah yang menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah, kebersamaan, serta semangat berbagi di tengah masyarakat Kota Pontianak.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyerahkan secara simbolis hewan kurban bantuan Presiden RI Prabowo Subianto berupa satu ekor sapi jenis limosin dengan bobot kurang lebih satu ton kepada Ketua BKM Masjid Baiturrahman Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara, Syarif Muhammad Alkadrie.
Selain penyerahan sapi kurban, Pemerintah Kota Pontianak juga menyerahkan simbolis besek sebagai wadah pembagian daging kurban ramah lingkungan kepada masyarakat.
Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pada Iduladha tahun ini Pemerintah Kota Pontianak menyalurkan sebanyak 22 ekor sapi kurban yang didistribusikan ke sejumlah masjid di berbagai wilayah Kota Pontianak.
“Daging kurban nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat yang berhak menerima, terutama kaum fakir miskin dan warga kurang mampu di berbagai wilayah Kota Pontianak,” ujarnya.
Menurut Edi, Iduladha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah penyembelihan hewan kurban semata, tetapi juga menjadi momentum memperkuat nilai pengorbanan, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap sesama.
Ia menilai semangat berkurban mengajarkan pentingnya gotong royong, kerja sama, saling membantu, serta berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang membutuhkan.
“Makna Iduladha bukan sekadar menyembelih hewan kurban, tetapi bagaimana kita memaknai pengorbanan dalam kehidupan sosial. Ini menjadi momentum meningkatkan solidaritas, kepedulian, dan semangat berbagi kepada warga yang membutuhkan,” katanya.
Sementara itu, Khatib Salat Iduladha, Ustadz Sahrani, menyampaikan khutbah bertema “Kurban dalam Dimensi Religi, Filsafah, dan Sosial”. Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa Iduladha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum spiritual yang sarat dengan nilai ketauhidan, pengorbanan, dan solidaritas kemanusiaan.
Menurutnya, ibadah kurban merupakan warisan keteladanan Nabi Ibrahim AS yang mengandung pesan penghambaan total kepada Allah SWT sekaligus refleksi moral bagi kehidupan manusia modern yang kerap dihadapkan pada tantangan materialisme dan individualisme.
“Esensi utama kurban bukan terletak pada darah dan daging hewan yang disembelih, tetapi pada ketakwaan, keikhlasan, dan kesiapan manusia melepaskan sesuatu yang dicintainya demi menaati perintah Allah,” ujarnya di hadapan ribuan jemaah.
Ia menjelaskan, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi menjadi pelajaran teologis tentang kemenangan iman atas ego, hawa nafsu, dan kecintaan duniawi.
Dalam makna yang lebih mendalam, kurban juga dimaknai sebagai proses menyembelih sifat-sifat negatif dalam diri manusia seperti kesombongan, kedengkian, kerakusan, dan kebencian.
Selain dimensi religius, Ustadz Sahrani juga menyoroti nilai filosofis kurban sebagai simbol pengorbanan dalam kehidupan. Menurutnya, setiap kemajuan peradaban lahir dari pengorbanan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun bangsa.
“Nilai tertinggi kehidupan bukan semata pada apa yang dimiliki seseorang, tetapi pada apa yang mampu ia korbankan demi kemaslahatan yang lebih besar,” tuturnya.
Dalam konteks sosial, ia menilai ibadah kurban memiliki peran penting sebagai instrumen pemerataan dan solidaritas ekonomi. Distribusi daging kurban kepada masyarakat tanpa memandang status sosial disebut sebagai wujud nyata keadilan sosial yang diajarkan Islam.
Di tengah ketimpangan ekonomi yang masih terjadi, syariat kurban dinilai menghadirkan pesan kemanusiaan bahwa kekayaan tidak semestinya hanya berputar di kalangan tertentu, tetapi juga harus memberi manfaat bagi kaum dhuafa dan masyarakat yang membutuhkan.
Lebih jauh, Ustadz Sahrani mengajak umat Islam menjadikan Iduladha sebagai momentum muhasabah untuk memperbaiki kualitas iman sekaligus memperluas kepedulian sosial.
“Jangan sampai kita mampu menyembelih hewan kurban, tetapi gagal menyembelih ego, keserakahan, dan kebencian dalam diri kita,” pesannya.
Ia juga menyebut ibadah kurban sebagai sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Menurutnya, anak-anak yang menyaksikan prosesi kurban dapat belajar tentang makna kepedulian, pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan kepada agama sejak dini.
Menutup khutbahnya, Ustadz Sahrani mengajak seluruh jemaah menjadikan Iduladha sebagai energi spiritual untuk membangun masyarakat yang lebih adil, harmonis, beradab, dan penuh kasih sayang.
“Jadikanlah kurban bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi spirit untuk memperbaharui iman, memperkuat ketakwaan, dan memperluas manfaat bagi sesama,” pungkasnya.
Adapun jumlah hewan kurban di Kota Pontianak tahun ini tercatat sebanyak 590 ekor sapi dan 477 ekor kambing yang tersebar di enam kecamatan.
Rinciannya, Kecamatan Pontianak Barat sebanyak 168 ekor sapi dan 189 ekor kambing, Pontianak Kota 119 ekor sapi dan 91 ekor kambing, Pontianak Selatan 92 ekor sapi dan 67 ekor kambing, Pontianak Tenggara 145 ekor sapi dan 78 ekor kambing, Pontianak Timur 36 ekor sapi dan 35 ekor kambing, serta Pontianak Utara sebanyak 30 ekor sapi dan 17 ekor kambing.[SK]
.jpeg)