Dinkes Kalbar Tingkatkan Kerja Sama untuk Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Editor: Admin author photo

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, dr. Erna Yulianti [SK]
Pontianak (Suara Pontianak) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Barat semakin memperkuat kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak, demi menekan tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Erna Yulianti, menegaskan pentingnya peningkatan kualitas layanan di fasilitas kesehatan, perluasan cakupan program kesehatan bagi ibu hamil dan bayi, serta sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya perawatan kesehatan selama kehamilan dan setelah persalinan.

“Upaya ini termasuk memperkuat kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan, memperluas jangkauan program kesehatan untuk ibu dan anak, serta intensif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak,” ungkap Erna, seperti dilansir ANTARA, Rabu (13/11/2024).

Tingginya AKI dan AKB di Kalbar membutuhkan perhatian ekstra. Berdasarkan data terkini, AKI pada 2023 mencapai 246 per 100.000 kelahiran hidup, meningkat signifikan dari 214 per 100.000 pada 2021. 

Sementara kasus kematian ibu melonjak dari 120 kasus pada 2022 menjadi 135 kasus pada 2023. AKB juga mengalami peningkatan menjadi 17,47 per 1.000 kelahiran hidup pada 2023, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 8 per 1.000 pada 2021.

“Lonjakan angka kematian ini menuntut pendekatan holistik dan berkelanjutan melalui harmonisasi kebijakan serta koordinasi antara pemerintah dan masyarakat,” tambahnya.

Dalam menghadapi tantangan ini, Erna mengajak semua sektor, baik pemerintah, komunitas, maupun swasta, untuk bersinergi. Dinkes Kalbar terus mendorong peran aktif masyarakat guna mendukung lingkungan yang sehat bagi ibu hamil dan bayi.

“Dengan kerja sama lintas sektor yang kuat, koordinasi yang baik, dan komitmen bersama, kami optimis dapat menekan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Kalbar,” pungkasnya.

Erna menegaskan bahwa tingginya angka kematian ibu dan bayi ini memerlukan perbaikan lebih intensif pada akses dan kualitas layanan kesehatan maternal di wilayah Kalimantan Barat.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play