Pontianak (Suara Pontianak) – Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Stella Maris Pontianak memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya informasi yang mengaitkan organisasi tersebut dengan penyediaan konsumsi dalam kegiatan Komuni Pertama di Gereja Stella Maris Siantan yang belakangan menjadi perhatian publik menyusul dugaan kasus keracunan yang menimpa sejumlah peserta.
Ketua WKRI DPC Stella Maris, Maria Sukarni.SUARAPONTIANAK/SK
Ketua WKRI DPC Stella Maris, Maria Sukarni, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak memiliki keterlibatan dalam penyediaan makanan maupun konsumsi yang disajikan pada kegiatan tersebut. Ia menyebut informasi yang beredar di masyarakat dan mengaitkan WKRI sebagai pihak penyedia konsumsi tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
“Kami perlu menyampaikan klarifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat. WKRI DPC Stella Maris tidak terlibat dalam penyediaan konsumsi pada kegiatan Komuni Pertama tersebut,” tegas Maria Sukarni.
Menurut Maria, makanan yang disajikan dalam kegiatan tersebut disediakan oleh pihak tertentu secara pribadi dan tidak mewakili organisasi WKRI maupun memiliki hubungan kelembagaan dengan WKRI DPC Stella Maris.
Ia juga menegaskan bahwa WKRI tidak termasuk dalam struktur kepanitiaan pelaksanaan Komuni Pertama yang berlangsung di Gereja Stella Maris Siantan. Dengan demikian, seluruh proses perencanaan, pengambilan keputusan, hingga pelaksanaan teknis kegiatan, termasuk pengadaan konsumsi, berada di luar tanggung jawab organisasi.
“WKRI tidak berada dalam kepanitiaan kegiatan tersebut, sehingga seluruh pelaksanaan teknis kegiatan, termasuk urusan konsumsi, bukan merupakan tanggung jawab organisasi kami,” jelasnya.
Maria mengatakan klarifikasi ini penting disampaikan untuk meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat sekaligus menghindari munculnya persepsi yang tidak tepat terhadap organisasi yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial, kemasyarakatan, dan pelayanan umat Katolik.
Menurutnya, penyebutan nama WKRI dalam berbagai pemberitaan maupun percakapan publik tanpa disertai informasi yang lengkap berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan nama baik organisasi.
Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menerima maupun menyebarkan informasi, terutama terkait peristiwa yang saat ini masih dalam proses penelusuran oleh pihak-pihak yang berwenang.
“Kami berharap masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan akurat serta tidak terburu-buru menyimpulkan keterlibatan suatu pihak sebelum ada penjelasan resmi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Di tengah perhatian publik terhadap kasus yang menimpa sejumlah peserta Komuni Pertama tersebut, WKRI DPC Stella Maris menyatakan tetap mendukung proses penanganan dan investigasi yang dilakukan oleh instansi terkait guna mengetahui penyebab pasti kejadian.
Organisasi tersebut juga berharap seluruh pihak dapat menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan resmi dari pihak berwenang sehingga informasi yang beredar di masyarakat tidak menimbulkan keresahan maupun kesimpulan yang keliru.
Maria menegaskan bahwa klarifikasi yang disampaikan bukan untuk menghindari tanggung jawab, melainkan sebagai bentuk pelurusan informasi agar fakta yang berkembang di ruang publik tetap objektif dan proporsional.
“Kami ingin memastikan bahwa informasi yang diterima masyarakat sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Karena itu, kami berharap semua pihak dapat menunggu hasil penelusuran resmi dan tidak membangun opini yang belum terverifikasi,” katanya.
WKRI DPC Stella Maris juga menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan berbagai kegiatan pelayanan sosial dan kemasyarakatan bagi umat serta mendukung terciptanya suasana yang kondusif dengan mengedepankan informasi yang akurat, faktual, dan dapat dipertanggungjawabkan.[SK]