| Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat Susanto. SUARAPONTIANAK/SK |
Susanto menilai, peran Kanwil Kemenag Kalbar tidak hanya berkaitan dengan pelayanan administratif keagamaan, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam mempertemukan berbagai elemen masyarakat di tengah keberagaman agama dan keyakinan di Kalimantan Barat.
“Kami melihat Kemenag Kalbar telah menjalankan peran yang secara substantif dapat dimaknai sebagai jāmi‘u kalimatil ummah, yakni mempertemukan dan merekatkan berbagai elemen umat, sekaligus ri‘āyatul ummah, yaitu membina, melayani, dan mengayomi umat,” kata Susanto, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, peran tersebut menjadi penting karena Kalimantan Barat memiliki masyarakat yang majemuk dengan latar belakang agama, budaya dan sosial yang beragam.
Kerukunan, kata Susanto, tidak cukup dibangun hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan serta masyarakat.
Salah satu capaian yang dinilai relevan adalah penghargaan Harmony Award 2025 yang diberikan Kementerian Agama kepada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Barat sebagai salah satu FKUB provinsi dengan kinerja terbaik secara nasional.
Susanto menegaskan, penghargaan tersebut diberikan kepada FKUB Kalimantan Barat, bukan kepada Kanwil Kemenag Kalbar. Namun, capaian itu dinilai menunjukkan adanya ekosistem kolaborasi dalam upaya memelihara kerukunan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
“Bagi kami, penghargaan ini bukan sekadar sebuah predikat. Ini menunjukkan bahwa kerja-kerja merawat kerukunan membutuhkan kolaborasi. Kemenag, FKUB, pemerintah daerah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan memiliki peran masing-masing,” ujarnya.
Susanto mengatakan, tantangan kehidupan beragama saat ini semakin kompleks. Perkembangan media sosial, derasnya arus informasi serta potensi polarisasi di tengah masyarakat membutuhkan peran lembaga keagamaan dan pemerintah yang mampu membuka serta membangun ruang dialog.
Dalam konteks tersebut, Kanwil Kemenag dinilai memiliki posisi strategis sebagai penghubung berbagai kepentingan di bidang keagamaan.
“Ketika Kemenag mampu mempertemukan berbagai elemen, membuka ruang dialog dan memastikan pelayanan keagamaan berjalan dengan baik, di situlah fungsi jāmi‘u kalimatil ummah dan ri‘āyatul ummah menemukan relevansinya,” kata Susanto.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut sejalan dengan semangat LDII untuk membangun kehidupan masyarakat yang rukun, toleran dan produktif melalui kerja sama lintas lembaga.
LDII Kalbar, kata Susanto, juga berkomitmen untuk terus membangun kemitraan dengan Kemenag, khususnya dalam penguatan kerukunan umat beragama, moderasi beragama, pendidikan karakter, pemberdayaan masyarakat serta kegiatan sosial.
“Yang paling penting bukan hanya bagaimana umat menjalankan kehidupan beragama dengan baik, tetapi bagaimana nilai-nilai agama menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat dan memperkuat persatuan bangsa,” ujarnya.
Susanto berharap capaian selama empat tahun terakhir dapat menjadi fondasi untuk terus memperkuat pelayanan dan pembinaan umat pada periode berikutnya.
Menurutnya, keberagaman yang ada di Kalimantan Barat perlu terus dijaga melalui komunikasi, toleransi dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Kerukunan adalah modal sosial Kalimantan Barat. Menjaganya merupakan tanggung jawab bersama,” pungkas Susanto. [SK]