Kubu Raya (Suara Pontianak) — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Kalimantan Barat menghadapi tantangan serius. Api yang tidak lagi terlihat di permukaan belum menjadi tanda kebakaran sepenuhnya padam, sebab bara masih dapat bertahan dan menjalar jauh di bawah lapisan gambut.Tekan Titik Api dan Bahaya Asap, Pemprov Kalbar dan BNPB Maksimalkan Metode Suntik Gambut di Rasau Jaya Tiga. SUARAPONTIANAK/SK
Kondisi tersebut terlihat di Desa Rasau Jaya Tiga, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. Di lokasi ini, petugas gabungan harus menerapkan teknik khusus berupa suntik gambut untuk memasukkan air langsung ke lapisan tanah yang terbakar.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, kondisi karhutla di Kalbar secara umum mulai menunjukkan perkembangan positif. Dari total luasan lahan yang terdampak sekitar 38 ribu hektare, saat ini sekitar 200 hektare masih dalam proses penanganan.
“Alhamdulillah, dari total luasan yang terdampak karhutla sekitar 38 ribu hektare, saat ini sekitar 200 hektare masih dalam penanganan. Titik api juga sudah mulai menurun dari 2.000 titik api, tinggal 100 lebih titik api. Dan alhamdulillah hari ini ada hujan,” kata Norsan.
Namun, kondisi di lahan gambut membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan hanya dengan menyiram api yang terlihat di permukaan. Bara dapat tersimpan di dalam tanah dan sewaktu-waktu kembali muncul apabila lapisan gambut belum benar-benar basah.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, karakteristik tersebut membuat pemadaman karhutla di lahan gambut membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kebakaran di lahan mineral.
“Kita sedang melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Saya mengecek operasi darat yang dipimpin langsung Pak Gubernur dan Pak Pangdam untuk memadamkan di wilayah Kubu Raya, tepatnya di Desa Rasau Jaya Tiga. Enam hari ini terbakar. Luasnya 7 hektare, tetapi karena lahan gambut, ini enam hari baru 6 hektare,” ujar Suharyanto.
Menurut Suharyanto, kondisi itu menggambarkan betapa sulitnya memastikan kebakaran gambut benar-benar padam. Meskipun api di permukaan telah berhasil dikendalikan, asap yang masih muncul menjadi salah satu indikasi adanya bara yang tertinggal di bawah permukaan.
“Nanti rekan-rekan media bisa melihat bagaimana cara memadamkan lahan gambut. Airnya harus betul-betul sampai tanah dan jadi seperti bubur,” jelasnya.
Ia menegaskan, penanganan karhutla di Kalimantan Barat tidak cukup hanya berfokus pada api yang terlihat. Sumber bara di dalam gambut harus dibasahi secara menyeluruh agar kebakaran tidak kembali muncul.
“Masalahnya kebakaran hutan dan lahan di Kalbar ini sudah liar. Sudah padam, tetapi yang jadi masalah adalah asap karena lahan gambut. Jadi harus betul-betul padam,” katanya.
Untuk menjangkau bara yang berada di bawah permukaan, petugas menggunakan teknik suntik gambut. Metode ini dilakukan dengan memasukkan pipa ke dalam lapisan gambut, kemudian air dipompa langsung menuju bagian tanah yang masih menyimpan panas.
Pipa yang digunakan memiliki ujung tajam sehingga dapat menembus lapisan gambut. Setelah mencapai kedalaman tertentu, air dialirkan melalui pipa untuk membasahi lapisan tanah dari dalam.
“Salah satu tekniknya adalah suntik gambut. Pipa panjang ujungnya tajam, di ujung dikasih pompa agar air langsung masuk ke dalam. Kata Pak Gubernur tadi ada yang sampai 8 meter. Di sini 1 meter saja butuh waktu,” ungkap Suharyanto.
Lambannya proses tersebut menunjukkan bahwa luas lahan yang terbakar bukan satu-satunya ukuran tingkat kesulitan penanganan karhutla. Kedalaman gambut, keberadaan bara di bawah tanah, kondisi kelembapan, serta ketersediaan sumber air turut menentukan cepat atau lambatnya proses pemadaman.
Suharyanto berharap penanganan di Rasau Jaya Tiga dapat segera diselesaikan sehingga tidak lagi menyisakan sumber asap.
“7 hektare sudah 6 hari baru 6 hektare. Mudah-mudahan hari ini bisa tuntas,” pungkasnya.
Selain operasi darat, pemerintah juga mengoptimalkan operasi udara melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari strategi untuk membantu mengendalikan karhutla di Kalimantan Barat.
Operasi di lapangan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api, Dinas Kehutanan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga unsur terkait lainnya.
Gubernur Kalbar Ria Norsan mengapresiasi dukungan Pemerintah Pusat dalam penanganan karhutla, termasuk kehadiran langsung Kepala BNPB untuk melihat kondisi kebakaran di lapangan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Pusat, baik Bapak Presiden, Pak Menteri Dalam Negeri dan juga Kepala BNPB Pusat yang sudah langsung hadir di lokasi ini melihat langsung situasi dan kondisi kebakaran di Kalimantan Barat,” ucap Norsan.
Menurut Norsan, kekompakan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi karhutla yang terjadi di tengah kondisi lahan gambut dan cuaca kering.
“Untuk kekompakan, alhamdulillah seluruh stakeholder dari TNI, Polri, Pemerintah Pusat, kemudian Manggala Agni, kemudian Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Masyarakat Peduli Api, berkolaborasi semuanya untuk memadamkan ini,” katanya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memastikan operasi pemadaman akan terus dilanjutkan hingga titik api dan bara di bawah permukaan gambut benar-benar terkendali.
Upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengurangi luasan lahan terbakar, tetapi juga menekan asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Di tengah kondisi cuaca kering, masyarakat kembali diingatkan untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Pencegahan menjadi bagian penting dari penanganan karhutla, mengingat api yang muncul di kawasan gambut dapat berkembang cepat dan sulit dikendalikan.
Dengan memperkuat operasi darat, dukungan udara, teknik pemadaman khusus seperti suntik gambut, serta kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap penanganan karhutla di Kalimantan Barat dapat dipercepat dan sumber bara yang berada di bawah permukaan benar-benar padam. [SK]