Kubu Raya (Suara Pontianak) – Perjuangan panjang para relawan dan petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya mulai menunjukkan hasil. Setelah berjibaku siang dan malam selama hampir dua bulan, jumlah titik panas atau hotspot di wilayah tersebut kini dilaporkan turun drastis.Kagama Kalbar Salurkan Sembako untuk Pahlawan Karhutla Kubu Raya. SUARAPONTIANAK/SK
Di tengah perkembangan positif tersebut, kepedulian terhadap para petugas yang masih berada di garis depan juga terus mengalir. Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Kalimantan Barat menyalurkan bantuan paket sembako kepada para relawan karhutla di Kantor Bupati Kubu Raya, Minggu (6/9/2026).
Bantuan tersebut diserahkan melalui Pemerintah Kabupaten Kubu Raya untuk kemudian diteruskan kepada para petugas dan relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla, mulai dari Pemadam Kebakaran (Damkar), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kubu Raya, Arianto, mengungkapkan penurunan hotspot menjadi salah satu perkembangan menggembirakan dalam penanganan karhutla di wilayah tersebut.
“Untuk saat ini jumlah hotspot di Kubu Raya menurun drastis. Sampai tadi malam, dari sebelumnya ada seribuan lebih, pagi ini tersisa 110 hotspot. Ini merupakan hasil kerja dari Satgas Udara maupun Satgas Darat, serta dibantu oleh turunnya hujan sebagai hasil dari upaya TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca),” ungkap Arianto.
Meski jumlah hotspot telah menurun signifikan, upaya pengendalian karhutla tetap dilakukan. Petugas masih harus memastikan tidak ada bara yang tersisa dan berpotensi kembali memicu kebakaran, terutama pada kawasan lahan gambut.
Menurut Arianto, perjuangan para personel di lapangan selama hampir dua bulan menjadi alasan penting bagi berbagai pihak untuk memberikan dukungan moral maupun material.
Atas dasar itu, Kagama Kalbar yang dipimpin Harisson mengambil inisiatif untuk menunjukkan kepedulian kepada para relawan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi karhutla.
“Kami tentunya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Harisson selaku Ketua Umum Kagama Kalbar. Ini bentuk kepedulian dari beliau dan beberapa ormas lainnya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi penambah semangat bagi relawan dan Damkar yang sedang berjibaku memadamkan api,” kata Arianto.
Ia menilai dukungan seperti ini memiliki arti penting bagi para petugas yang bekerja dalam kondisi penuh tantangan. Selain membutuhkan peralatan dan logistik, para personel di lapangan juga membutuhkan dukungan moral agar tetap bersemangat menjalankan tugas.
Apresiasi serupa disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Kubu Raya, Gusti Maulana. Ia menyebut bantuan dari Kagama dan berbagai elemen masyarakat menjadi suntikan semangat bagi seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla.
“Tentu kita mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Harisson serta berbagai elemen atas kolaborasinya. Bantuan ini menjadi motivasi tersendiri bagi kawan-kawan relawan, jajaran BPBD, baik dari unsur pemerintah, swasta, TNI, maupun Polri,” ujar Gusti Maulana.
Menurutnya, perjuangan para petugas di lapangan tidak mudah. Mereka harus menghadapi kondisi cuaca, medan yang sulit, hingga risiko kesehatan akibat asap selama menjalankan operasi pemadaman dan pembasahan.
“Kawan-kawan di lapangan ini memang sangat perlu mendapat dorongan semangat di tengah ujian musibah yang sedang kita hadapi ini,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kagama Kalbar Harisson menyampaikan pesan khusus kepada seluruh relawan yang hingga kini masih menjalankan tugas di tengah ancaman karhutla.
“Kepada relawan yang sudah berjibaku siang dan malam memadamkan Karhutla ini, kami berharap rekan-rekan tetap bersemangat dan mudah-mudahan selalu senantiasa dalam keadaan sehat,” tutur Harisson.
Penurunan hotspot di Kubu Raya menjadi sinyal positif setelah wilayah tersebut menghadapi karhutla dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat tugas para petugas selesai.
Pengawasan dan pemadaman tetap diperlukan untuk memastikan titik api yang tersisa tidak berkembang kembali. Terlebih, hujan yang turun perlu diikuti dengan proses pembasahan dan pemantauan di lokasi-lokasi yang sebelumnya terbakar.
Penanganan karhutla di Kubu Raya selama ini melibatkan berbagai unsur, baik Satgas Darat maupun Satgas Udara, BPBD, Damkar, KPH, TNI, Polri, serta relawan dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut diperkuat dengan dukungan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang turut membantu menghadirkan hujan di wilayah terdampak.
Bantuan sembako dari Kagama pun menjadi bagian dari dukungan masyarakat terhadap perjuangan para petugas. Bagi mereka yang berada di garis depan, perhatian tersebut bukan sekadar bantuan logistik, tetapi juga bentuk penghargaan atas pengorbanan dalam menjaga masyarakat dan lingkungan dari ancaman karhutla.
Dengan sinergi antara operasi pemadaman, dukungan teknologi, turunnya hujan, serta kepedulian berbagai elemen masyarakat, pengendalian karhutla di Kubu Raya diharapkan terus menunjukkan perkembangan positif hingga seluruh titik api dan potensi bara benar-benar dapat dikendalikan. [SK]