Pontianak (Suara Pontianak) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan Kalimantan Barat. Guru asal SMAS Kristen Immanuel Pontianak, Tio Magdalena Manurung, berhasil lolos sebagai salah satu perwakilan Indonesia dalam program pertukaran guru ke Korea Selatan yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang.
Tio Magdalena Manurung, guru asal SMAS Kristen Immanuel Pontianak yang berhasil lolos program Indonesia–Korea Teacher Exchange (IKTE) 2026.SUARAPONTIANAK/SK
Tio Magdalena terpilih dalam program Indonesia–Korea Teacher Exchange (IKTE) 2026 yang berada di bawah naungan Asia-Pacific Centre of Education for International Understanding.
Keberhasilan tersebut diraih setelah melewati serangkaian tahapan seleksi yang panjang dan kompetitif. Tio mengaku bersyukur dapat melalui seluruh proses hingga akhirnya dinyatakan lolos sebagai peserta program internasional tersebut.
“Tahap seleksi pertama itu kita pemberkasan dokumen yang hampir memakan waktu satu bulan. Banyak yang harus disiapkan seperti sertifikat kemampuan Bahasa Inggris, surat izin kepala sekolah, hingga surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat,” katanya kepada Suarakalbar.co.id, Senin (16/06/2026).
Tak hanya seleksi administrasi, pada tahap berikutnya Tio juga diminta menyiapkan project plan serta video presentasi yang kemudian dipresentasikan langsung di Jakarta.
Dalam video tersebut, ia menampilkan berbagai kekayaan budaya Kalimantan Barat sebagai identitas daerah yang ingin diperkenalkan di tingkat internasional.
“Dalam video tersebut, saya menampilkan identitas budaya Kalbar lewat tarian Dayak, proses memasak Bubur Pedas khas Sambas, serta aktivitas merajut yang mengintegrasikan kain tenun Dayak Sintang,” ujarnya.
Melalui program pertukaran guru ini, Tio berkomitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme sebagai tenaga pendidik, khususnya dalam pengembangan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), serta penerapan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pembelajaran.
“Saya ingin belajar langsung dari sistem pendidikan Korea Selatan yang dikenal maju dalam bidang tersebut,” tambahnya.
Selain memperluas wawasan pendidikan, program tersebut juga diharapkan mampu memperkuat kemampuan komunikasi antarbudaya dan membuka peluang kolaborasi internasional bersama para guru dari berbagai negara.
Menurut Tio, program di bawah koordinasi APCEIU itu akan mempertemukan peserta dengan guru-guru dari Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand dalam berbagai agenda pendidikan serta pertukaran budaya.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh nantinya dapat dibawa pulang dan diterapkan di Kalimantan Barat, sekaligus menjadi inspirasi bagi para guru dan siswa untuk terus berprestasi hingga tingkat internasional.[SK]