Warga Sambas Soroti Kesesuaian Paket MBG Ramadhan dengan Anggaran Rp15 Ribu per Hari

Editor: Admin author photo

Penyaluran MBG kering di awal Ramadhan di Sambas menuai kritik warga. Isi paket dinilai belum sebanding dengan anggaran Rp15 ribu per hari, bahkan ditemukan roti berjamur.SUARAPONTIANAK/SK
Sambas (Suara Pontianak) – Sejumlah warga di Kabupaten Sambas mempertanyakan kesesuaian antara isi paket bantuan MBG dengan besaran anggaran yang disebut mencapai Rp15 ribu per hari untuk setiap penerima. Pasalnya, pada penyaluran perdana di bulan Ramadhan, bantuan langsung diberikan untuk kebutuhan tiga hari sekaligus, sehingga total nilainya diperkirakan sekitar Rp45 ribu.

F, salah seorang orang tua penerima manfaat, mengaku merasa kurang puas dengan paket MBG yang diterima anaknya pada hari pertama distribusi, Senin lalu. Ia menyebutkan, jika mengacu pada nominal Rp15 ribu per hari, maka bantuan untuk tiga hari seharusnya setara Rp45 ribu.

“Mohon maaf sebelumnya, ini pembagian MBG hari pertama di bulan Ramadhan dan langsung untuk tiga hari ke depan. Kalau dihitung Rp15 ribu per hari, berarti totalnya sekitar Rp45 ribu,” ungkapnya, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, komposisi bantuan yang diterima belum mencerminkan nilai anggaran yang disebutkan. Dalam paket tersebut, ia mendapati dua butir telur, empat buah pisang, lima butir kurma, satu bungkus kacang telur, serta ubi rebus atau tembilek yang dicampur susu dan keju.

“Bukan berarti kami tidak bersyukur. Namun akan lebih baik jika menu untuk tiga hari itu benar-benar disesuaikan dengan anggaran yang sudah ditetapkan,” ujarnya.

Ia juga mencoba mengkalkulasi harga sejumlah bahan pokok apabila dibeli secara eceran di pasaran. Berdasarkan perkiraannya, susu kemasan besar dijual sekitar Rp20 ribu per kotak, roti tawar ukuran besar berkisar Rp15 ribu per bungkus, dan dua butir telur sekitar Rp3 ribu.

Menurutnya, apabila pengadaan dilakukan dalam jumlah besar, seharusnya harga yang diperoleh dapat lebih ekonomis sehingga komposisi bantuan bisa lebih maksimal.

Sementara itu, warga lain berinisial S mengaku kecewa karena menemukan roti dalam paket bantuan dalam kondisi tidak layak konsumsi.

“Roti yang kami terima sudah berjamur. Itu yang membuat kami berani berkomentar,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara program MBG terkait mekanisme penganggaran, komposisi paket, maupun dugaan adanya bahan pangan yang tidak layak konsumsi tersebut. Warga berharap ada evaluasi agar penyaluran bantuan berikutnya dapat lebih sesuai dengan anggaran dan kualitas yang diharapkan.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini