Pontianak (Suara Pontianak) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) terus meluas sejak pertengahan Januari 2026. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (PUSDALOPS) PB BPBD Kalbar, hingga Senin (26/1/2026), total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 260,4 hektare, tersebar di 27 kecamatan dan 37 desa pada sejumlah kabupaten dan kota.
Potret bencana karhutla yang terjadi di Kalbar.SUARAPONTIANAK/SK
Dari total luasan tersebut, sekitar 166 hektare telah berhasil dipadamkan. Artinya, tingkat penanganan karhutla baru mencapai sekitar 64 persen, sementara sisanya masih berada dalam kondisi berasap atau berpotensi kembali menyala, terutama di wilayah dengan karakter lahan gambut dan keterbatasan sumber air.
Sebaran karhutla terluas tercatat di Kota Singkawang. Wilayah ini melaporkan kebakaran di 7 kecamatan dan 12 desa dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 138 hektare. Seluruh area terdampak di Singkawang dilaporkan telah berhasil dipadamkan berkat kerja cepat tim gabungan.
Sementara itu, Kabupaten Sambas menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar kedua. Kebakaran terjadi di 6 kecamatan dan 10 desa dengan total luas terbakar sekitar 28,5 hektare. Dari jumlah tersebut, 14,5 hektare telah berhasil dipadamkan. Sejumlah titik api berada di kawasan lahan gambut, sehingga membutuhkan pengawasan intensif dan pemadaman berkelanjutan.
Di Kabupaten Kubu Raya, karhutla tercatat terjadi di 2 kecamatan dan 2 desa dengan luas lahan terbakar sekitar 4,5 hektare, dan 1,7 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan. Operasi pemadaman dipusatkan di Kecamatan Sungai Raya, meliputi Desa Arang Limbung dan Desa Kuala Dua, dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan pemadam kebakaran, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).
Kubu Raya juga menjadi satu-satunya daerah di Kalbar yang telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kabut Asap Akibat Karhutla Tahun 2026, melalui SK Nomor 46/BPBD/2026 yang berlaku sejak 15 Januari hingga 31 Desember 2026.
Karhutla juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Kayong Utara dengan luas terbakar sekitar 14,3 hektare, dan 8,2 hektare di antaranya telah dipadamkan. Kebakaran tersebar di Kecamatan Simpang Hilir dan Pulau Maya. Di Kabupaten Ketapang, kebakaran terjadi di Kecamatan Matan Hilir Selatan dan Matan Hilir Utara dengan total luas lahan terbakar sekitar 4,8 hektare, dan sebagian telah berhasil dikendalikan.
Selain itu, PUSDALOPS PB BPBD Kalbar juga mencatat kejadian karhutla di Kabupaten Mempawah, Melawi, Sintang, dan Landak, meskipun sebagian data luasan masih dalam proses verifikasi.
Di Kabupaten Mempawah, kebakaran di Desa Pasir dan Desa Peniti Besar dilaporkan masih menyisakan kondisi lahan berasap saat petugas meninggalkan lokasi. Sementara di Kabupaten Melawi, karhutla terjadi sejak 19 Januari 2026 di Desa Manggala, Kecamatan Pinoh Selatan, dengan kendala utama berupa keterbatasan sumber air serta medan yang sulit dijangkau.
Dalam penanganan karhutla, berbagai unsur dilibatkan, mulai dari BPBD Provinsi dan Kabupaten/Kota, TNI–Polri, UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan pemadam kebakaran, PMI Kalbar, hingga masyarakat setempat. PUSDALOPS PB BPBD Kalbar menegaskan bahwa data yang disajikan masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring proses verifikasi laporan lapangan.
Dengan total 260,4 hektare lahan terbakar, karhutla di Kalbar menunjukkan pola sebaran yang dominan di wilayah pesisir dan lahan gambut. Meski sejumlah daerah seperti Kota Singkawang telah berhasil mengendalikan seluruh titik api, kondisi lahan berasap di beberapa wilayah lain menandakan risiko kebakaran ulang masih terbuka, sehingga diperlukan kewaspadaan serta pemantauan berkelanjutan dari seluruh pihak.[SK]