![]() |
| H. Morkes Effendi [Foto:Istimewa] |
" Morkes Effendi adalah Amir TanjungPura Darussalam atas Bai'at muslimin di Ketapang dan sekitarnya"
Pontianak (Suara Kalbar)- Kabar duka datang dari Tokoh Masyarakat Ketapang sekaligus Mantan Bupati Ketapang Priode 2001-2005 dan 2005- 2010. H. Morkes Effendi meninggal dunia diusia 68 tahun.
Almarhum meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Agoesdjam Ketapang pada Rabu (6/11) sekitar pukul 14.05 WIB.
Morkes Effendi dikenal sebagai kader partai Golkar tulen. Karirnya di Partai berlambang pohon beringin ini dimulai dari bawah. Total sudah 35 tahun dirinya mengabdi untuk Partai Golkar. Dimulai dari membantu pengurus kecamatan lalu menjadi pembantu komisaris. Setelah itu Wakil Ketua pengurus Kabupaten. Lalu menjadi sekretaris dan tidak lama setelah itu, perjuangan dan keaktifannya mendorongnya menjadi ketua Kabupaten. Baru setelah itu, pada Musyawarah Daerah DPD Partai Golkar tahun 2009 Morkes Effendi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalimantan Barat periode 2009-2015.
Karirnya sebagai pejabat publik bermula ketika ia terpilih menjadi bupati Kabupaten Ketapang pada tahun 2000-2005 periode pertama dan 2005-2010 periode kedua. Dibawah kepemimpinannya, Kabupaten Ketapang dibawa menjadi daerah yang maju. Keharmonisan dan hubungan masyarakat baik antar suku ataupun antar agama terjaga dengan baik. Dari sisi pembangunan Kabupaten Ketapang dibawanya menjadi daerah yang maju. Tingkat perekonomian termasuk yang tertinggi di Kalimantan barat. Pertumbuhan ekonomi saat itu hingga 10 persen. Infrastruktur dibangun, tingkat pengangguran dan angka kemiskinan berhasil ditekan.
Di sisi lain, Morkes Effendi juga dikenal sebagai penjaga warisan budaya melayu. Kini ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Lembaga adat melayu selantau (LAMS). LAMS adalah sebuah lembaga regional antar kerajaan-kerajaan di Nusantara yang memiliki dasar budaya melayu.
Meski berasal dari budaya melayu Morkes Effendi dikenal sebagai seorang nasionalis. Baginya melayu itu hanyalah darimana ia berasal sedang sebagai warga Indonesia, ia harus menjadi seorang yang terbuka dan tidak memandang ras, suku atau golongan. Itu dibuktikan ketika ia memimpin kabupaten Ketapang tidak ada diskriminasi kebijakan yang dilakukan. Hubungan antar suku dan golongan terjaga dengan baik.
Dia pun memiliki pandangan yang kurang lebih sama tentang Partai Golkar, yang menurutnya sangat cocok menjadi wadah perjuangan melawan penindasan dan diskriminasi atas nama suku, agama dan sebagainya. Buat dia, pada dasarnya Partai Golkar bukanlah partai orang Melayu, Cina, Jawa atau Dayak. Partai Golkar adalah partai ‘tengah’ yang nasionalis. Ia juga menyayangkan jika ada kader Partai Politik yang pindah partai karena identitas kesukuan atau agama, padahal sebagai kaum yang melek politik dan kebangsaan, kader partai haruslah menjadi pendidik dan panutan politik bagi masyarakat yang plural, sehingga bisa meminimalisir pertikaian berbasis suku, agama, dan semacamnya.
Morkes Effendi terpanggil untuk mengabdi bagi Kalimantan Barat. Dalam pandangannya saat ini Kalbar adalah wilayah yang masih jauh tertinggal baik dalam pengembangan manusia maupun pembangunan daerah dibandingkan dengan wilayah Kalimantan lainnya. Padahal potensi baik itu alam dan sumber manusia di Kalbar itu sungguh besar dan masih bisa untuk dimanfaatkan.
Dengan visi bangkit melawan Morkes Effendi mengajak warga Kalbar untuk bersama melawan kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan. Diskriminasi, penindasan serta yang paling penting adalah bangkit melawan korupsi yang merajalela untuk membawa kebangkitan bagi Kalbar. Karena seorang Morkes yakin di Kalbar masih banyak potensi yang masih bisa dimanfaatkan bagi kemajuan Kalbar dan kesejahteraan rakyatnya.
