Pontianak (Suara Pontianak) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pontianak, Amirullah, menegaskan bahwa pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tidak boleh sekadar dimaknai sebagai rutinitas seremonial atau ajang perlombaan, melainkan harus menjadi momentum memperkuat nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.
Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah menabuh beduk menandai dibukanya MTQ ke-34 Tingkat Kecamatan Pontianak Barat.SUARAPONTIANAK/SK
Hal tersebut disampaikannya saat membuka MTQ ke-34 tingkat Kecamatan Pontianak Barat di Aula Kantor Camat Pontianak Barat, Minggu (26/4/2026). Kegiatan tahun ini diikuti sebanyak 266 peserta dari empat kelurahan.
“Pelaksanaan MTQ tahun ini bukan sekadar rutinitas seremonial atau ajang perlombaan. Tema yang kita angkat adalah gerakan transformasi menuju Kota Pontianak yang qurani, cerdas, berkarakter, dan adaptif,” ujarnya.
Amirullah menjelaskan, tema tersebut mengandung empat pilar utama. Pilar pertama adalah qurani, yakni bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi benar-benar membumi dan menjadi pedoman moral dalam kehidupan sehari-hari.
Pilar kedua adalah cerdas. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan, sehingga generasi muda diharapkan mampu berkembang secara intelektual tanpa meninggalkan tuntunan agama.
“Generasi kita harus cerdas secara intelektual, namun tetap berpijak pada tuntunan wahyu Allah SWT,” katanya.
Pilar ketiga adalah berkarakter. Di tengah derasnya arus budaya global, Amirullah menilai peran keluarga menjadi sangat penting sebagai benteng utama dalam membentuk generasi yang jujur, amanah, dan berintegritas berdasarkan nilai-nilai Islam.
Sementara pilar keempat adalah adaptif. Ia menyebut perubahan dunia yang begitu cepat menuntut masyarakat, termasuk Kota Pontianak, untuk mampu berinovasi dan tangkas tanpa kehilangan jati diri sebagai masyarakat religius.
Kepada para peserta, Amirullah berpesan agar mengikuti MTQ dengan niat ibadah dan sebagai sarana syiar Islam. Ia menegaskan bahwa menjadi juara bukanlah tujuan utama.
“Menjadi juara adalah bonus, namun menjadi duta Al-Qur’an di lingkungan masing-masing adalah tugas utama kita selamanya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan dewan hakim untuk memberikan penilaian secara adil dan objektif, sehingga mampu melahirkan peserta terbaik yang siap mewakili Kota Pontianak ke tingkat yang lebih tinggi.
“Dewan hakim diminta memberikan penilaian yang seadil-adilnya dan seobjektif mungkin, sesuai metode penilaian dan kondisi sebenarnya,” pungkasnya.
MTQ ke-34 tingkat Kecamatan Pontianak Barat Tahun 2026 diikuti total 266 peserta, terdiri dari 101 peserta laki-laki dan 90 peserta perempuan untuk cabang perorangan, serta peserta beregu pada cabang Syarhil Qur’an dan Fahmil Qur’an masing-masing 9 regu laki-laki dan 16 regu perempuan.
Pelaksanaan lomba tersebar di beberapa lokasi. Aula Kantor Camat Pontianak Barat menjadi pusat perlombaan cabang Tartil Anak-anak, Tilawah Anak-anak, Tilawah Remaja, Tilawah Dewasa, dan Tilawah Usia Emas. Aula Kelurahan Sungai Jawi Luar digunakan untuk cabang Fahmil Qur’an dan Syarhil Qur’an.
Sementara itu, cabang kaligrafi digelar di SMA Kapuas Pontianak yang meliputi Kaligrafi Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi, Kontemporer, hingga Digital. Adapun cabang Tahfiz dan Murattal dipusatkan di Masjid Syaiful Islam lantai dua, mencakup kategori 1 juz hingga 30 juz, serta Mujawwad Dewasa.[SK]