Lomba Meraut Pabayo Meriahkan Naik Dango 2026, Upaya Lestarikan Warisan Budaya Dayak

Editor: Admin author photo

Lomba meraut Pabayo di acara Festival Naik Dango 2026 pada Rabu (22/04/2026).SUARAPONTIANAK/SK
Pontianak (Suara Pontianak)Festival Naik Dango 2026 yang digelar di Rumah Radank tidak hanya menyuguhkan ragam hiburan budaya, tetapi juga menghadirkan perlombaan tradisional yang sarat makna. Salah satunya adalah lomba meraut pabayo, yang menjadi daya tarik tersendiri dalam perhelatan budaya tersebut.

Salah satu juri lomba, Sajem, menjelaskan bahwa pabayo merupakan alat ritual khas suku Dayak yang terbuat dari bambu dan diraut sangat tipis hingga membentuk rumbai-rumbai artistik. Tingkatannya pun bervariasi, mulai dari dua hingga tujuh lapisan, tergantung pada besar kecilnya acara adat yang dilaksanakan.

“Pabayo itu alat ritual dari suku Dayak yang saat ini generasi muda dalam membuatnya sudah mulai berkurang. Padahal, pabayo selalu digunakan dalam berbagai ritual, baik untuk pengobatan, berladang, gawai, maupun upacara lainnya, dan masing-masing memiliki bentuk yang berbeda,” ungkapnya.

Melalui lomba ini, panitia berharap generasi muda semakin tertarik untuk mengenal sekaligus mempelajari teknik pembuatan pabayo sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Dayak.

“Dengan dilombakannya meraut pabayo, harapannya generasi muda semakin berminat. Proses pembuatannya unik, membutuhkan ketelitian, keahlian, dan memiliki nilai seni tinggi,” tambah Sajem.

Lomba tersebut diikuti oleh tiga peserta, salah satunya Felix. Ia mengakui bahwa meraut pabayo bukan pekerjaan mudah meski terlihat sederhana.

“Kelihatannya mudah, tapi saat dilakukan cukup sulit. Harus fokus agar bambu tidak putus, dan pisau yang digunakan juga harus benar-benar tajam,” ujarnya.

Felix menuturkan bahwa dirinya telah belajar meraut pabayo sejak kecil, meskipun hingga kini masih terus mengasah kemampuan.

“Saya sudah beberapa tahun belajar, tapi belum sempurna. Hasilnya juga tergantung kualitas bambu dan alat yang digunakan,” jelasnya.

Menurutnya, tradisi meraut pabayo perlu terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan nilai-nilai budaya lokal tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play