![]() |
| Fahrizal, tetangga almarhum Charles yang berada gang Shirat 1 di dusun istana, desa baru.SUARAPONTIANAK/SK |
Kabar hilangnya kontak helikopter mulai terdengar sejak Kamis pagi (16/4/2026), memicu kekhawatiran warga. Kecemasan itu semakin menjadi ketika diketahui Charles berada dalam penerbangan nahas tersebut.
“Sejak pagi kami sudah dengar kabar helikopter hilang kontak. Tapi belum menyangka kalau beliau termasuk di dalamnya,” ujar Fahrizal, tetangga dekat almarhum, saat ditemui jurnalis Suara Kalbar, Sabtu (18/4/2026) sore.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Charles dikenal sebagai sosok yang ramah, rendah hati, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Selama lebih dari lima tahun, ia menetap bersama istri dan anaknya di Gang Shirat 1, Dusun Istana, Desa Baru. Pekerjaannya di perusahaan perkebunan membuatnya hanya bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga setiap akhir pekan.
“Beliau biasanya pulang hari Minggu saja, setelah itu kembali kerja ke perusahaan kebun,” kenang Fahrizal.
Tragedi ini semakin menyayat hati saat terungkap momen terakhir komunikasi keluarga yang terputus tanpa firasat. Pada pagi hari kejadian, ponsel sang istri, Neti Wina Sari, dalam kondisi rusak dan harus diperbaiki. Setelah ponsel kembali berfungsi, Neti mencoba menghubungi suaminya pada siang hari, namun panggilan itu tak pernah terjawab.
“HP istrinya sempat rusak pagi itu. Setelah diperbaiki, siangnya dia telepon, tapi cuma berdering, tidak diangkat,” ungkap Fahrizal lirih.
Kepastian pahit akhirnya datang ketika nama Charles masuk dalam daftar penumpang helikopter yang jatuh. Setelah proses evakuasi seluruh korban selesai, keluarga segera bertolak ke Pontianak. Malam harinya, suasana duka menyelimuti rumah keluarga dengan digelarnya ibadah bersama sebagai bentuk doa dan penghormatan terakhir.
Awalnya, keluarga berencana memakamkan almarhum di Nanga Pinoh. Namun setelah melalui musyawarah keluarga besar, jenazah akhirnya diputuskan untuk dibawa ke kampung halamannya di Kecamatan Menukung.
Fahrizal juga mengenang momen terakhir kebersamaannya dengan Charles. Beberapa hari sebelum kejadian, tepatnya pada Minggu, almarhum sempat berbincang santai dan berencana membangun kanopi di rumahnya.
“Beliau sempat minta tolong carikan tukang. Orangnya memang aktif, sering ikut ronda dan kerja bakti. Kalau ada apa-apa, biasanya saya yang ditelepon,” tuturnya.
Kepergian Charles meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar yang mengenalnya sebagai pribadi hangat dan ringan tangan.
“Sebagai tetangga, kami sangat kehilangan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” pungkas Fahrizal.[SK].jpg)