Pontianak (Suara Pontianak) – Ratusan warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, memadati halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak untuk menunggu waktu berbuka puasa, Rabu (25/02/2026). Sejak sore hari, pelataran masjid sudah dipenuhi warga yang menggelar tikar sambil menata aneka takjil.
Suasana berbuka puasa di halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak pada Rabu (25/02/2026).SUARAPONTIANAK/SK
Sebagian besar pengunjung membawa makanan berbuka yang sebelumnya dibeli di Pasar Juadah Mujahidin, pusat jajanan khas Ramadan yang setiap tahun ramai diserbu masyarakat. Tak hanya keluarga, suasana halaman masjid juga dipenuhi rombongan anak muda. Beberapa di antaranya tampak masih mengenakan pakaian kerja, baru tiba untuk menikmati momen berbuka puasa bersama.
Beberapa tahun terakhir, buka puasa bersama di pelataran Masjid Raya Mujahidin menjadi tren di kalangan masyarakat Pontianak. Selain suasananya yang syahdu dan religius, konsep sederhana dengan tikar dan takjil dinilai lebih hemat serta menghadirkan nuansa kebersamaan yang kuat.
Salah satunya Dani, seorang guru di salah satu sekolah di Pontianak, yang datang bersama teman-temannya. Ia mengaku sengaja memilih menunggu waktu berbuka di halaman Masjid Mujahidin karena suasananya nyaman dan biaya yang dikeluarkan relatif terjangkau.
“Tadi kita beli takjil di Pasar Juadah Masjid Mujahidin, kan lengkap dan banyak ya. Nah setelah itu kita langsung bukber di sini,” ujarnya.
Menurut Dani, berbuka puasa di halaman masjid menghadirkan rasa kebersamaan yang lebih terasa karena semua orang duduk bersama tanpa sekat.
“Menurut saya kebersamaan di sini lebih tinggi ya. Coba lihat, kapan lagi kita bisa bukber pakai karpet seperti ini, duduk melingkar, lalu berbaur juga bersama yang lain,” katanya.
Ia juga menambahkan, tidak jarang warga non-Muslim turut hadir untuk berbuka bersama sebagai bentuk toleransi dan kebersamaan antarumat beragama.
“Kalau kita bukber di sini, tidak ada bedanya dengan yang lain. Semuanya saling membaur, mau mahasiswa, orang kantoran, bahkan ada juga teman-teman yang non-Muslim,” tambahnya.
Keindahan arsitektur Masjid Raya Mujahidin serta panorama matahari terbenam di sore hari menjadi nilai tambah tersendiri. Saat cuaca cerah, langit senja berpadu dengan siluet kubah masjid menciptakan suasana yang hangat dan berkesan.
“Seperti hari ini kan cuacanya cerah, jadi kelihatan matahari terbenam cantik. Dan memang ramai juga di sini,” pungkas Dani.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi, menumbuhkan toleransi, serta menghadirkan kebersamaan lintas kalangan di ruang publik yang penuh makna.[SK]