Kubu Raya (Suara Pontianak) – Restorasi mangrove di kawasan Hutan Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat kini tidak hanya difokuskan untuk memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga diarahkan sebagai upaya membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Potret Bupati Kubu Raya, Sujiwo, saat menanam mangrove.SUARAPONTIANAK/SK
Program pemulihan kawasan mangrove tersebut mulai dikembangkan sebagai bagian dari strategi menciptakan mata pencaharian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi warga pesisir.
Upaya itu diwujudkan melalui kegiatan penanaman mangrove yang berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Delta Kapuas Project yang dilaksanakan bersama LPHD Batu Ampar, SAMPAN Kalimantan, dan PT Belantara Sejahtera Mandiri.
Dalam program tersebut, sebanyak 19 ribu bibit mangrove jenis Rhizophora apiculata ditanam di kawasan pesisir Batu Ampar sebagai bagian dari upaya pemulihan kawasan mangrove yang mengalami kerusakan.
Bupati Kubu Raya, Sujiwo yang memimpin langsung kegiatan penanaman menegaskan bahwa restorasi mangrove harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar, bukan sekadar menjadi agenda penyelamatan lingkungan semata.
“Ini bukan hanya untuk menyelamatkan lingkungan, tetapi juga memikirkan bagaimana pencaharian masyarakat,” kata Sujiwo di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya akan mengalokasikan anggaran rutin setiap tahun untuk membeli bibit mangrove hasil pembibitan masyarakat setempat.
Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi langkah strategis agar masyarakat tidak hanya terlibat sebagai peserta penanaman, tetapi juga menjadi pemasok bibit mangrove. Dengan begitu, program restorasi diharapkan mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru di desa-desa pesisir melalui usaha pembibitan mangrove.
Tak hanya itu, pemerintah daerah juga berkomitmen membantu pemasaran bibit hasil produksi warga agar usaha pembibitan memiliki pasar yang jelas dan berkelanjutan.
“Mulai hari ini kita akan mapping dan survei lahan-lahan yang sudah kritis mangrovenya. Kita tanam bareng-bareng, dan salah satu sumber bibitnya kita ambil dari sini,” jelasnya.
Sujiwo menilai pemetaan kawasan mangrove yang mengalami kerusakan menjadi langkah penting agar proses restorasi berjalan tepat sasaran sekaligus memberikan dampak ekologis dan ekonomi secara berkelanjutan.
Ia juga memastikan akan terus mengawal pelaksanaan program tersebut agar tidak berhenti hanya pada kegiatan seremonial.
“Dan saya akan kawal,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua LPHD Batu Ampar, Herman menyatakan dukungannya terhadap program penanaman mangrove tersebut.
Menurut Herman, keterlibatan masyarakat lokal menjadi unsur penting karena warga selama ini hidup berdampingan dengan kawasan pesisir dan hutan desa.
“Kami menyambut baik kegiatan semacam ini. Selain memberi dampak positif terhadap lingkungan, kegiatan ini melibatkan banyak penduduk lokal, memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat Batu Ampar,” katanya.
Ia menilai restorasi mangrove tidak hanya membantu menjaga kelestarian kawasan pesisir, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui aktivitas pembibitan hingga pemeliharaan mangrove.
Program tersebut dinilai memberikan dampak luas bagi masyarakat desa, nelayan, kelompok pengelola hutan desa, pelaku usaha lokal, hingga generasi muda yang menggantungkan kehidupan pada kawasan pesisir.
Bagi nelayan, keberadaan mangrove yang terjaga berfungsi mempertahankan habitat ikan, udang, kepiting, dan berbagai biota perairan lainnya. Sementara bagi pelaku usaha lokal, restorasi mangrove membuka peluang usaha baru berbasis lingkungan dan ekonomi hijau.
Restorasi mangrove di Batu Ampar kini dipandang bukan sekadar gerakan penghijauan, melainkan bagian dari upaya membangun hubungan baru antara masyarakat dan kawasan pesisir melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus produktif secara ekonomi.[SK]